Pinocchio: Tidak Bisa Berbohong atau Mengatakan Kebenaran?

Lama gak nulis tiba-tiba kepengen nulis lagi. Mumpung lagi sempet dan berhari-hari ada di pikiran kenapa tidak jadinya kita menulis lagi. Hehe..

Setelah memasuki dunia perkuliahan lagi waktu pribadi otomatis jadi sangat berkurang. Drastis menurun. Kerjaannya kalo libur gak lain buat bikin tugas. Hixx.. Well, gue tetap bersyukur masih bisa menikmati bangku kuliah lagi. Ketemu teman-teman yang baik dan luar biasa. Tapi.. tulisan gue kali ini gak berhubungan sama kuliah S2 gue. Ini berhubungannya sama hobi gue yang lain, yaitu Nonton Dra-Kor (Drama Korea). nahlohh..  hahahaha….

Yup.. Belakangan emang jadi kecanduan nonton Drama Korea gara-gara sekarang itu udah gak perlu repot kudu beli dvd nya dulu baru bisa nonton atau belakangan nonton streaming dari laptop. Sekarang mah jaman udah lebih maju lagi, jadi segala sesuatu jadi sangat amat mudah. Cukup punya HP android udah bisa nonton Drama Korea (selama kita masih punya kuota atau di tempat yang ada wifi-nya yah.. hehe..).

Sampai saat ini gak tau udah berapa film yang udah gw tonton (mulai dari sebelum kuliah sampai sekarang.. cuma kalo sekarang yah udah gak bisa sesering dulu..) dan semua film itu biasanya gue cuma asal nonton aja menikmati alur cerita, ikutan meleleh liat romantisme cowo-cowo Korea, naksir sama pemain utamanya (khususnya Song Joong Ki-oppa dan yang main jadi Healer.. hehe..), nangis-nangis saat ada adegan yang menyayat hati. Tapi belakangan setelah nonton dua film terakhir ini (yang satu masih on process nonton sih) kok ya bisa kepikiran buat nge-share something yang gue dapet dari film itu.

Salah satu film tersebut adalah film yang judulnya “Pinocchio”, sebuah film yang diperankan oleh Park Shin Hye dan Lee Jong Suk, bercerita tentang seorang gadis yang hidup dengan Pinocchio Syndrome. Apa itu Pinocchio Syndrome? Di film itu diceritakan tentang seseorang yang akan cegukan setiap kali berbohong, cegukan yang akan muncul walau hanya dengan berbohong lewat peswan teks atau telepon. Nah cegukan itu akan terus berlanjut hingga dia menyatakan kebenarannya. Namun tentu saja sindrom ini hanyalah fiktif belaka. Sindrom pinokio yang sebenarnya sih kalo dari internet juga ditujukan untuk orang yang mengalami gelotophobia, yaitu salah satu social phobia dengan keadaan seseorang yang takut untuk ditertawakan ataupun mendengar suara tertawa. Badan akan menjadi kaku seperti boneka kayu, itulah kenapa jadinya dinamakan sindrom pinokio.

Well.. kita tidak bahas itu lama-lama lagi. Gue disini mau share tentang masalah yang seperti yang ada di judul post gue ini, yaitu “Tidak Bisa Berbohong atau Mengatakan Kebenaran?” Bukannya sama aja ya? Buat gue ini gak sama. “Tidak Bisa Berbohong” adalah keadaan saat seseorang mengetahui sesuatu hal namun saat dituntut oleh lingkungannya akan mengatakannya juga. Sedangkan “Mengatakan Kebenaran” adalah murni pilihan orang tersebut untuk berkata-kata atau tidak. Ada beda motivasi disini, satu motivasi intrinsik (dari dalam diri) dan satunya adalah motivasi ekstrinsik (dari luar diri). Berkaitan juga dengan keberanian kalo kita bahas motivasi.

Tidak ada yang benar ataupun salah dalam hal ini, yang pasti keberanian untuk mengatakan sesuatu, terutama untuk sesuatu yang benar, yang perlu digarisbawahi. Kepikiran aja kalo setiap orang yang ada di negara ini berani mengatakan hal-hal yang benar pasti akan menjadi lebih kondusif keadaannya. Dalam Alkitab kita diwajibkan untuk mengatakan dengan tegas apakah sesuatu hal itu salah atau benar?

Dalam Matius 5:37 dikatakan bahwa: “Jika ya, hendaklah kamu katakan: ya, jika tidak, hendaklah kamu katakan: tidak. Apa yang lebih dari pada itu berasal dari si jahat.” Permasalahan tidak ingin mengatakan yang benar juga termasuk berasal dari si jahat. Memang manusia memiliki pilihan namun jika kebenaran itu memang perlu diungkapkan hendaklah diungkapkan dengan segera.

Penyakit masyarakat saat ini kan gitu, tau hal yang benar namun memilih untuk bersikap acuh atau cuek dengan keadaan sekitar. Manusia modern jaman sekarang memilih untuk menjadi individualis. Saat yang lain salah, hal pertama yang dilakukan adalah ikutan menuding atau malah bahkan mentertawakannya dulu. Padahal bisa saja yang membuat orang itu salah adalah kita yang tidak mau mengatakan yang benar kepada diamakanya dia jadi salah.

Jaman maju mbok ya diiringi dengan majunya akhlak yang baik dan kepekaan sosial yang semakin tinggi. Juga keberanian yang timbul dari dalam diri masing-masing orang. Gue berdoa masih banyak orang-orang yang bisa berani mengatakan kebenaran ke depannya. Dan yang lebih pasti lagi adalah agar orang juga jadi lebih mau mendengar.

Ciaoo….

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s