You Are What You Think

Ehemm.. Judulnya keren yah.. sok Inggris gituh.. Haha.. Di tulisan gue kali ini gue kepengen banget bisa sharing tentang kekuatan pikiran manusia. Sebagai anak psikologi sekali-sekali gue juga pengen dong bisa ngebahas sesuatu yang berhubungan dengan psikologi. Hahahahaha…. #cliinnnggg… *bersinar-sinar ceritanya..*

Jadiiii…. Begini ceritanya..

Di kantor gue yang baru ini ada satu orang karyawan, sebut saja namanya Joko, yang baru aja tiga bulan-an lah join di kantor. Dia awalnya berfungsi dari sekedar bantu-bantu karena awalnya dia juga bisa masuk ke kantor karena bokapnya Joko adalah kenalan dari bos gue. Karena  awalnya bantu-bantu aja jadi dia lebih banyak kerjain kerjaan yang klerikal atau lebih ke pekerjaan yang sifatnya sebagai pelaksana. Contohnya: cuci piring, bantu fotokopi atau scan apa gitu.

Sebenernya Joko ini tergolong anak yang cukup pintar. Dia ngerti tentang gadget dan dunia internetan, bahasa inggrisnya jago, logikanya jalan, inisiatifnya ada, sayangnya dia pesimis banget. Dia selalu menganggap dirinya hanya lulusan SMA yang kerjaannya cuma jadi pesuruh doang. Padahal dia juga pernah bilang kalo dia pengen kerja di kantoran yang keren dan lanjut studi lagi. Seharusnya Joko ini lebih bisa berkembang ke depannya.

Maka, gue sama dua temen gue akhirnya mencoba mencari cara gimana caranya mengembangkan anak ini. Dia katanya tertarik di psikologi so jadi kita bikinin dia jadwal untuk bisa belajar otodidak. Dia kita kasih pinjem buku, dia kita ajarin tentang alat tes, dll. Mungkin karena Joko ini masih muda juga dan agak labil jadi memang dia suka mood-mood-an. Gak bisa disalahkan sepenuhnya tentang diri Joko, tapi sebenarnya bisa diubah asal Joko juga mau berubah.

Belakangan kinerjanya menurun dan apalagi sejak dia punya hp canggih (baca: android), kerjanya cuma mainan hp doang. Kalo ada kerjaan apa jadinya suka ditunda-tunda, suka menghilang di jam kerja dan ternyata tidur di tempat ‘persembunyiannya’, dan banyak hal lainnya lagi yang mengindikasikan penurunan semangatnya dia.

Ohya satu hal lagi kelemahannya yaitu dalam berkomunikasi atau berkata-kata. Mungkin karena dia merasa dia dari kampung dan kepengen banget bisa jadi AGJ (Anak Gaul Jakarta) makanya dalam berkomunikasi banyak ucapan-ucapan yang terlalu lebay. Sedangkan konteks dia kerja di kantor dan hubungannya ga cuma sama karyawan tapi ke owner juga. Paling sering Joko suka ganti jawaban “iya” dengan kata “siap”. Kelihatannya simple tapi kalo kita lagi ngomong serius dijawab begitu rasanya kok terlalu lebay dan malah terkesan mengejek ya.

Nah.. kemarin puncaknya gue uda nahan-nahan rasanya liat kelakuan dia dan tutur kata dia, plusss…lagi gue pas banget banyak kerjaan, hectic, serta mumet. So, akhirnya meledaklah gue kemarin dan menegur Joko ini supaya bisa well-behaved dan mengerti porsi kerjaannya. Akkhirnya Joko nampak tidak senang dengan gue tapi kita berdua mencoba untuk menahan diri. Gue cukup appreciate dia masih bisa nahan diri.

Cuma… hari ini jadi lain ceritanya nih ketika saat briefing sama dia tadi pagi dan Joko menyatakan bahwa ia akan mundur dari perusahaan karena merasa tidak nyaman dan kurang sesuai pekerjaannya. Joko lebih suka bekerja dengan tipe operasional, bisa ketemu orang dan banyak ngobrol. Yahhh… gue sih uda liat dari awal dy menurun di bulan Juni kemarin. Dia sudah kehilangan passionnya nampaknya. Tapi, setelah dikorek-korek akhirnya gue mendapat bahwa memang dia menganggap dirinya rendah. Sampe akhirnya terciptalah “You Are What You Think” pas gue melontarkan kata-kata mutiara. #cieeee.. haha..

Nah, hubungan dengan psikologi adalah tentang pikiran yang dimiliki oleh manusia. Sebuah pikiran akan berfungsi menjadi sangat kuat jika bisa difokuskan secara maksimal. Makanya ada orang-orang yang disebut dengan mentalist. Gue gak akan bahas tentang mentalist sih dengan lebih detail tapi mungkin ini masih berhubungan.

Kata-kata “You Are What You Think” itu psikologis sekali karena manusia akan menjadi seperti yang ia pikirkan sebenarnya. Kalo dia berpikir dirinya hanya tukang becak maka selamanya akan hanya jadi tukang becak. Beda kalo dia berpikir dirinya sekarang tukang becak tapi dia mau jadi pengusaha becak maka dia bisa jadi pengusaha becak.

Teori gampang tapi memang praktek susah. Hanya saja masih bisa dilakukan dan dibiasakan untuk kita juga. Semua kan berasal dari pikiran. So, mulailah dengan berpikir positif serta berpikir besar. Well… paling tidak hati-hati dengan apa yang kita pikiran dan ucapkan.

Ciaooo…

 

– TellaTella –

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s